
Ia bukan siapa-siapa, hanya seseorang
yang terusir dari keluarganya. Ia tak bisa bebas berkeluh-kesah kepada
keluarganya, tetapi ia punya banyak keluarga baru dan teman setia di
sekelilingnya. Ia tak pernah merasa damai, selalu terbayang-bayang
kejadian di masa lalu, menimang-nimang apakah perbuatannya benar atau
salah, keputusannya tepat atau tidak. Ia sering merenung, tetapi ia akan
tampak selalu ceria di hadapan siapa saja yang ia temui. Ia berjalan
dengan percaya diri, penuh semangat menatap hari, bersama Allah ia yakin
semua akan baik-baik saja. Dalam kondisi seperti itu, siapa sangka
dalam dirinya pun bersemayam kerapuhan, harap bercampur ketakutan.
Wajahnya tampak sendu ketika berdoa setelah sholat, air mukanya
menggambarkan kesedihan yang tak tertahankan, tapi keyakinannya kepada
Rabb-nya begitu besar, mengalahkan segala kesedihan itu sehingga ia
kembali tersenyum, penuh ketulusan. Bersemayamnya kerapuhan, bukan tanda
ia tak kuat, tetapi itu hanya fitrahnya sebagai manusia yang lemah.
Sosoknya tetap sabar dan kuat, tak gentar terhadap apa pun.
Hari itu, ketika ia mulai membuka cerita
kepadaku, tentulah aku tak menyangka. Beberapa hari ku perhatikan, dan
benar, ia memang berhasil menyembunyikan kedukaannya, ia tampak wajar
dan hidup stabil. Akan tetapi itu semua tentu tidak mengecohku lagi,
karena aku dapat menangkap apa yang tersirat di balik semua yang ia
tampakkan. Ia memberiku kekuatan, bahwa posisi ku sekarang tentu jauh
lebih baik dari apa yang ia rasakan, lebih nyaman, dan aku tak perlu
mengeluhkannya. Ya, saat kita terpuruk, kita harus melihat ke bawah,
bahwa ada orang yang lebih terpuruk lagi, yang lebih menderita…
Tak perlu lama-lama meratapi diri, segala mimpi, segala cita, penuh
semangat kembali ku rajut lagi. Aku takkan menyerah walau harus memulai
dari nol lagi. Ku benahi segala yang salah selama ini, sistem hidup yang
ku buat selama ini mungkin terlalu naïf dan hanya melupakan diri. Tak
kan lari lagi, kini ku hadapi…
Rabb, mungkin terlalu lama aku mencoba mengerti hidup ini..
bahwa jalan yang ku lalui tak kan selalu mudah untuk di lewati..
Banyak rintangan yang menghadang,
duri-duri yang bertebaran..
tetapi aku harus kuat karena berhenti tiada arti…
Kuatkanlah..
Bimbinglah..
Rabbi…
Artikel diatas bersumber dari:
ReplyDeletehttp://motivasi-nellayayu.blogspot.com/2012/12/membenahi-imajinasi.html