Pangsit Jamur, Prospek Bisnis Kuliner dari ITS


Foto : Dwi Didit Prasetiyo, Pradipta Pangastuti, dan Sandhi Adingwangsana/ITS

Meski tidak berlatarbelakang pendidikan di bidang kuliner, tiga mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya berhasil menelurkan inovasi bisnis kuliner. Adalah Dwi Didit Prasetiyo, Pradipta Pangastuti, dan Sandhi Adingwangsana mencetuskan ide bisnis berupa pangsit isi jamur.
Dengan inovasi pangsit berjudul Presiden Pamor, tiga sekawan itu berhasil meraih juara tiga kompetisi Business Plan tingkat nasional di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang beberapa waktu lalu. Dwi Didit Prasetyo mengungkapkan, Presiden Pamor memiliki filosofi tersendiri.

"Kata Presiden dipilih karena melambangkan sebuah bentuk kepemimpinan, dan pamor sendiri adalah sebuah singkatan dari pangsit jamor. Nama tersebut melambangkan harapan kami untuk bisa bersaing di pasar produksi pangsit," ujar Didit, seperti dilansir dari ITS Online.

Menurut mahasiswa Jurusan Teknik Elektro itu, jamur sebagai pengganti daging cukup memiliki potensi di kalangan masyarakat. ''Bagi orang yang mengidap kolesterol tinggi, makan daging tidak baik untuk kesehatan, sedangkan jamur memiliki kadar protein nabati yang tinggi, cocok untuk menggantikan peran daging,'' tutur mahasiswa asli Bojonegoro tersebut.

Ide bisnis pangsit jamur ini bermula dari kegiatan mereka sebagai staf di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) ITS yang saat itu mengadakan program kampung binaan di daerah Keputih Pompa. Di kampung binaan tersebut terdapat budidaya jamur tiram. ''Kami pun berpikir bahwa jamur ini bisa berpotensi untuk dimanfaatkan lebih,'' tambahnya.

Ketiga mahasiswa ini mengaku banyak mendapatkan pelajaran untuk mengembangkan bisnis lewat kompetisi tersebut. Mereka menjadi tahu apa yang menjadi kekuatan dan kelemahan produk yang mereka tawarkan.

"Juri memberikan masukan banyak sekali, terutama tentang daya tahan makanan yang merupakan kelemahan dari makanan ini. Tapi, menurut para juri, bisnis ini juga punya kelebihan, yakni sederhana, mudah diaplikasikan, dan memiliki pangsa pasar yang lebar," ujar Pradipta Pangastuti.

Berdasarkan masukan tersebut, lanjut Dipta (begitu dia biasa disapa), mereka berencana untuk melakukan riset untuk mengawetkan makanan ini tanpa bahan pengawet buatan. "Kami coba untuk menjadikannnya dalam bentuk beku sehingga bisa di kirim jarak jauh dan dijual mentah di beberapa outlet," kata mahasiswa Jurusan Kimia 2011 itu.

Di balik prestasi yang diraih tim tersebut, Didit mengaku tengah khawatir akan keberlanjutan kampung binaan mereka karena adanya pergantian kepengurusan BEM ITS. ''Mungkin saja program kampung binaan tempat bahan mentah jamur ini berada tidak dilanjutkan oleh kepengurusan sekarang. Kami masih menunggu perkembangannya,'' urai Didit.

Namun, antisipasi telah disiapkan oleh tim ini sebelumnya. "Kami telah melihat budidaya jamur tiram ini di daerah Mojokerto dan Trawas, jadi kemungkinan produksi tidak akan terhambat walaupun Kampung Binaan tidak berlanjut,'' jelas Sandhi Adingwangsana, mahasiswa Jurusan Teknik Informatika.

Didit dan tim berharap agar dapat memenuhi cita-cita tim mereka dalam memimpin produksi makanan sehat nan praktis. Mereka juga mempunyai harapan agar usaha mereka dapat meningkatkan kesejahteraan kampung binaannya. ''Kami ingin mengentaskan kemiskinan di kampung binaan dengan memberdayakan masyarakat Keputih Pompa untuk menjadi karyawan,'' imbuh Didit.
 
 

1 Response to "Pangsit Jamur, Prospek Bisnis Kuliner dari ITS"

Terima kasih telah berkunjung di Bestmechanic.blogspot.com semoga apa yang anda baca bermanfaat. Silahkan bergabung dengan Bestmechanic.blogspot.com dengan cara klik SUKA dalam LIKE BOX. dan saya tunggu kritik dan sarannya. Terima kasih.