Sebuah Resolusi: 2013, Tidak Ada Oknum Nakal (Lagi)


Ilustrasi: dok. Agung Hermawanto.

“Saya putuskan untuk berdemonstrasi karena membiarkan kesalahan adalah kejahatan.” (Soe Hok Gie, mahasiswa Sastra UI )
 
BELUM kering rasanya suara tangisan dan keluhan dari para pedagang kios di sekitaran stasiun Lenteng Agung beberapa waktu lalu. Penggusuran itu dirasa terlalu tiba-tiba dan kurang manusiawi. Yah, memang seperti itulah cara pemerintah melakukan pendekatan; secara koersif, karena dinlai sangat efisien. Tak tanggung-tanggung, dalam penggusuran itu pemerintah mengundang personel-personel TNI dan Polisi dengan jumlah yang cukup besar. 
 
Tak sedikit jua yang melawan, sekelompok aktivis seperti mahasiswa dan LSM juga ikut terlibat mengadvokasi para pedagang yang notabennya sering disebut ”rakyat kecil“. Bentrok  tak bisa dihindari, kalau sudah begini, tentu koridor anarkis lebih diunggulkan ketimbang dialog atau musyawarah.

Pascapenggusuran, beberapa pedagang dan pemilik kios mungkin terpaksa menjadi pengangguran  friksional. Padahal banyak pedagang dan pemilik kios yang menggantungkan hidupnya di situ, tapi mata pencaharian mereka berakhir, seiring berakhirnya tahun 2012. Kini mereka hanya dapat pasrah dan berdoa. Tindakan penggusuran yang dilakukan oleh PT.KAI ini telah menuai banyak reaksi dan kecaman, khususnya mahasiswa. Tak ubahnya dengan pedagang dan pemiliki kios di stasiun se-Jabodetabek lain, yang kini menjadi sangat was-was akan isu ini. Membongkar kios memang gampang, tapi dampak yang ditimbulkan? Tentu akan lebih rumit lagi. Belum lagi masalah pengangguran, kemiskinan dan lainnya, lah wong mau usaha kok dipersulit, daripada korupsi, kan lebih baik berjualan.

Birokrat yang “Kleptokrat”
 
Sebenarnya niat yang dilakukan oleh PT. KAI sangat baik, yakni “membenahi” tata ruang stasiun. Rencananya, stasiun akan lebih diperindah lagi dengan bangunan-bangunan ber-AC, atau apalah itu. Namun sepertinya usaha yang dilakukan oleh PT. KAI sangat berseberangan dengan kepentingan rakyat kecil. Mereka layaknya kapitalis yang hanya melihat dari kacamata kudanya, tapi tidak melihat dalam kerangka sosial dan humanis.

Dalam beberapa wawancara di surat kabar online, para pedagang dan pemilik kios memang memiliki bukti yang kuat terkait kepemilikan dan penyewaan kios.  Pedagang tersebut bahkan sampai menunjukkan kuitansi dan cek yang masih berlaku atas perizinan kepada para aparat yang melakukan penggusuran. Namun hal itu tidak digubris dan diabaikan, seakan tidak mau tahu. Ironis memang, para pedagang tentu merasa legal karena memiliki bukti yang sah, tapi dibantah keras oleh PT. KAI yang menyatakan bahwa kios di sekitar stasiun ilegal.

Kalau sudah begini tentu akan ada hak yang harus diabaikan. Sangat disayangkan ulah para oknum yang sejatinya berkepala dua dan bermental rendah ini masih bebas hilir mudik di negeri ini. Dari yang elit, yakni jajaran petinggi pemerintahan hingga pejabat eselon rendah semua bermental Kleptokrat. Selalu ada cara untuk praktik KKN, seakan keadilan itu hanya pelengkap. Harus ada kejelasan dan komunikasi dua arah yang baik antara pedagang, PT. KAI serta pemerintah, agar tidak pihak yang merasa dikebiri haknya. Tidak perlu dengan cara koersif, karena kita bukan lagi berada di zaman Orde Baru dengan atribut militer yang membuat orang takut. Jalan tengah terbaik adalah negosiasi dua arah. Dan yang terpenting, dilakukan secara damai berdasarkan norma dan sosio-hukum yang berlaku.

Sebuah Resolusi

Tak terasa, waktu kini memasuki awal 2013. Banyak harapan khususnya untuk para oknum tidak bertanggung jawab agar segera mengubah sikap, sehingga tidak ada lagi kejadian yang serupa, yang dapat menyengsarakan rakyat kecil. Sulit memang membenahi budaya bangsa ini karena sudah terserang kanker korupsi yang cukup akut. Namun, jika terus membiarkannya maka kanker itu akan semakin ganas dan tak terkendali. Untuk itu kita harus bertindak, khususnya untuk para mahasiswa dan LSM terkait, untuk selalu berupaya dan mengadvokasi rakyat kecil. Karena memang  itulah tugasnya, menjadi agen perubahan yang idealis, bukan menjadi para birokrat yang bermental Kleptokrat, yang hanya menjual janji manis dan mengadaikan idealismenya.
 
Agung Hermawanto
Mahasiswa Geografi
Universitas Indonesia
Staf Kajian KSM Eka Prasetya UI

1 Response to "Sebuah Resolusi: 2013, Tidak Ada Oknum Nakal (Lagi)"

Terima kasih telah berkunjung di Bestmechanic.blogspot.com semoga apa yang anda baca bermanfaat. Silahkan bergabung dengan Bestmechanic.blogspot.com dengan cara klik SUKA dalam LIKE BOX. dan saya tunggu kritik dan sarannya. Terima kasih.